
Eksplorasi Keju Tradisional Asia yang Unik dan Jarang Diketahui – Masyarakat global umumnya mengasosiasikan produk keju dengan kebudayaan benua Eropa. Negara-negara seperti Prancis, Italia, Belanda, dan Inggris memang terkenal sebagai produsen keju utama dunia. Namun, benua Asia sebenarnya menyimpan sejarah pembuatan keju yang tidak kalah menarik. Berbagai komunitas tradisional di benua Asia telah memproduksi keju otentik sejak ratusan tahun lalu.
Eksplorasi Keju Tradisional Asia yang Unik dan Jarang Diketahui
Keju tradisional Asia lahir dari adaptasi kearifan lokal terhadap kondisi iklim dan ketersediaan hewan ternak. Bahan baku yang digunakan sangat beragam, mulai dari susu yak, susu kerbau air, hingga susu kambing gunung. Sayangnya, keberadaan keju Asia ini masih jarang diketahui oleh masyarakat luas. Oleh karena itu, artikel ini akan mengajak Anda mengeksplorasi keberagaman keju tradisional Asia yang unik dan bernilai sejarah tinggi.
1. Paneer dan Chhena (India dan Asia Selatan)
Paneer merupakan salah satu jenis keju segar yang paling populer di kawasan Asia Selatan, khususnya India. Keju ini dibuat dari susu sapi atau susu kerbau air tanpa melalui proses fermentasi bakteri. Pembuatannya mengandalkan koagulasi asam alami menggunakan perasan jeruk lemon, asam jawa, atau cuka.
Dadih yang terbentuk kemudian disaring dan ditekan hingga memadat. Paneer memiliki tekstur yang kokoh namun lembut dan tidak mudah meleleh saat dipanaskan. Cita rasanya yang netral dan gurih membuat Paneer sangat cocok dimasukkan ke dalam masakan berempah seperti kari.
Di samping Paneer, India dan Bangladesh juga mengenal Chhena. Chhena memiliki proses pembuatan yang mirip dengan Paneer, namun dadihnya tidak ditekan hingga keras. Tekstur Chhena jauh lebih basah dan beremah. Chhena sering dimanfaatkan sebagai bahan dasar utama pembuatan kue-kue tradisional khas India.
2. Chhurpi (Nepal, Bhutan, dan Tibet)
Kawasan Pegunungan Himalaya memiliki varietas keju yang sangat ekstrem dan tahan lama bernama Chhurpi. Keju tradisional ini dibuat dari susu yak atau susu Chauri (persilangan sapi dan yak). Chhurpi terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu Chhurpi lembut (soft) dan Chhurpi keras (hard).
Chhurpi lembut biasanya disantap langsung bersama nasi atau diolah menjadi sup hangat di kawasan pegunungan yang dingin. Sementara itu, Chhurpi keras melalui proses pengeringan dan pengasapan di atas kayu bakar selama berbulan-bulan.
Proses pengeringan yang panjang menjadikan Chhurpi keras memiliki tekstur yang sangat padat layaknya batu. Masyarakat lokal biasa mengunyah potongan kecil Chhurpi keras selama berjam-jam saat mendaki gunung. Keju unik ini mampu bertahan disimpan hingga bertahun-tahun tanpa membusuk.
3. Byaslag (Mongolia)
Sebagai bangsa nomaden dengan tradisi peternakan yang kuat, masyarakat Mongolia memiliki kebudayaan mengolah susu yang sangat kaya. Salah satu olahan susu kebanggaan mereka adalah keju tradisional bernama Byaslag. Keju ini umumnya diproduksi saat musim panas dari susu sapi atau susu yak segar.
Proses pembuatan Byaslag menggunakan cairan asam alami hasil fermentasi susu (kefir) untuk menggumpalkan adonan susu hangat. Dadih keju kemudian dimasukkan ke dalam cetakan kayu berbentuk persegi dan ditindih dengan pemberat batu.
Byaslag memiliki tekstur yang agak padat dengan warna putih kekuningan. Profil rasanya cenderung tawar dengan sedikit sentuhan rasa asam menyegarkan. Keju ini biasanya diiris tipis dan disajikan bersama teh susu hangat (Suutei Tsai) sebagai hidangan penyambut tamu.
4. Rushan dan Rubing (Tiongkok)
Tiongkok mungkin tidak dikenal sebagai negara pemakan keju secara umum. Namun, suku Yunnan di wilayah barat daya Tiongkok memiliki dua jenis keju tradisional yang sangat otentik, yaitu Rushan dan Rubing. Mengenal Keju Biru (Blue Cheese): Rasa Kuat yang Digemari Dunia
Rushan adalah keju dari susu sapi yang diproses melalui pengasaman dan pemanasan hingga menjadi adonan elastis. Adonan tersebut kemudian ditarik tipis, dililitkan pada bilah bambu, dan dikeringkan di bawah sinar matahari. Rushan biasanya disajikan dengan cara digoreng hingga renyah atau dipanggang dan diolesi selai manis.
Sementara itu, Rubing adalah keju segar dari susu kambing yang memiliki tekstur mirip dengan keju Feta atau Tofu. Keju ini tidak mudah meleleh sehingga sering diolah dengan cara digoreng pan, ditumis bersama sayuran, atau dikukus bersama ham lokal.
Kesimpulan
Mengeksplorasi keberagaman keju tradisional Asia memberikan wawasan baru bahwa seni mengolah susu tidak hanya milik benua Eropa. Dari kelembutan Paneer di India, kekerasan Chhurpi di Himalaya, hingga keunikan Rushan di Tiongkok, seluruhnya mencerminkan kearifan lokal masyarakat Asia. Mengenal varietas keju yang jarang diketahui ini akan memperkaya khazanah pengetahuan kuliner Anda di panggung internasional.